Pages

Monday, August 8, 2011

Memecahkan Masalah

Sebagai seorang biksu, saya sering diundang untuk berbicara dalam siaran langsung di radio. Semestinya saya harus lebih berhati-hati saat menerima undangan dari sebuah stasiun radio baru-baru ini. Hanya setelah memasuki studio, barulah saya diberitahukan bahwa acara pada malam itu adalah "tema orang dewasa", dan saya harus menjawab pertanyaan-pertanyaan secara langsung, bersama dengan seorang pakar seksologi ternama.

Sesudah kami mengatasi masalah penyebutan nama saya di radio (kami sepakat untuk memanggil saya sebagai "Mister Monk"), saya melakukan pekerjaan itu dengan sangat baik. Sebagai biksu selibat, saya tidak banyak tahu tentang seluk-beluk hubungan intim, namun masalah-masalah mendasar yang ditanyakan oleh para penelepon bisa dengan mudah ditangkap. Segera saja semua telepon yang masuk diarahkan kepada saya, dan sayalah yang akhirnya melakukan hampir semua pekerjaan selama 2 jam acara itu. Namun si pakar seksologilah yang menerima cek tebal. Yang saya terima, sebagai biksu yang tak boleh menerima uang, hanyalah sebatang cokelat. Sekali lagi, kebijaksanaan Buddhis memecahkan masalah yang mendasar. Anda tidak dapat menyantap selembar cek, tetapi sebatang cokelat itu enak. Masalah selesai, mmm!

Dalam acara diskusi lain di radio, seorang penelepon mengajukan pertanyaan berikut kepada saya, " Saya sudah menikah, saya berselingkuh dengan perempuan lain, dan istri saya tidak tahu. Apakah ini tidak apa-apa?"

Bagaimana Anda akan menjawabnya?

"Jika itu tidak apa-apa,"jawab saya,"Anda tidak akan menelepon untuk menanyakan hal itu."

Banyak orang yang menanyakan pertanyaan semacam itu, sebenarnya tahu bahwa apa yang mereka lakukan adalah salah, tetapi dengan harapan beberapa "pakar" akan menyakinkan mereka bahwa perbuatan itu dapat dibenarkan. Jauh dalam lubuk hati, kebanyakan orang tahu apa yang salah dan apa yang benar-hanya saja, sebagian orang tidak mendengarkannya dengan seksama.

Makan Dengan Bijak

Beberapa teman saya senang menikmati makan malam di restoran. Pada malam-malam tertentu mereka pergi ke restoran yang sangat mahal, di mana mereka siap mengeluarkan banyak uang untuk menikmati makanan mewah. Akan tetapi, mereka akhirnya menyia-nyiakan pengalaman itu dengan mengabaikan cita rasa makanannya dan lebih berkonsentrasi pada percakapan dengan rekan mereka.

Siapa yang akan mengobrol selama berlangsungnya konser persembahan sebuah orkestra hebat? Mengobrol akan menghalangi Anda menikmati musik yang indah, dan memungkinkan Anda untuk ditendang keluar. Bahkan ketika sedang menonton film yang bagus pun, kita tidak suka diusik. Jadi, mengapa orang-orang malah ngobrol ketika mereka pergi makan malam?

Jika restoran biasa-biasa saja, bisa jadi ide yang bagus untuk memulai percakapan guna mengalihkan pikiran kita dari makanan yang hambar. Namun bila makanannya benar-benar sedap, dan sangat mahal, maka katakanlah kepada rekan Anda untuk diam supaya Anda memperoleh seluruh manfaat dari harga yang Anda bayarkan; itu adalah cara makan yang bijak.

Bahkan ketika kita makan dalam diam pun, kita sering gagal mengecap momennya. Malahan, sementara kita mengunyah sepotong makanan, perhatian kita teralihkan ketika kita melihat piring kita untuk memilih makanan berikut dengan garpu kita. Kadang bahkan ada dua atau tiga garpu penuh-sepotong ada di dalam mulut, sepotong menunggu giliran, dan yang lainnya sudah menunggu di tumpukan di atas piring, sementara pikiran kita membayangkan sepotong makanan sesudah itu semua.

Dalam rangka merangsang cita rasa terhadapa makanan Anda, dan untuk mengetahui hidup sepenuh-penuhnya, seyogianya kita sering-sering mengecap satu momen dalam satu waktu dalam keheningan. Dengan demikian barulah kita bisa memperoleh manfaat penuh dari uang yang telah kita bayarkan pada sebuah restoran bintang lima bernama kehidupan.

Apakah Kebijaksanaan Itu?

Ketika masih sebagai mahasiswa, saya akan menghabiskan sebagian besar waktu liburan musim panas dengan berjalan-jalan dan berkemah di daerah dataran tinggi Skotlandia. Saya menyukai keheningan, keindahan, dan kedamaian pegunungan di Skotlandia.

Pada suatu senja yang tak terlupakan, saya berjalan lenggang kangkung di tepi samudra melalui jalan setapak yang melintas sepanjang tanjung menuju teluk kecil jauh ke arah utara. Sinar mentari yang terang dan hangat laksana sebuah lampu sorot yang menerangi keindahan alam nan tiada taranya di sekitar saya. Di tanah lapang tak bertuan terhampar luas rerumputan yang bak beludru hijau dalam segarnya musim semi; jurang-jurang terpahat laksana katedral yang menjulang tinggi di atas lautan yang bergelora; samudra tampak sebiru langit senja, bagai ditaburi oleh cahaya peri yang berkelap-kelip tertimpa sinar mentari, dan pulau karang kecil berwarna cokelat kehijauan tampak di kejauhan di tengah ombak di sepanjang garis tipis kaki langit. Bahkan, saya yakin, para camar dan burun laut pun meluncur dan terbang berputar-putar dalam kesukariaan yang melimpah. Alam mempertontonkan miliknya yang paling indah, di salah satu bagian paling permai dari dunia kita, di suatu keagungan hari yang cerah.

Saya terus melompat-lompat sekalipun terbebani oleh ransel yang berat. Saya merasa gembira, tanpa memikirkan hal-hal lainnya, di puncak inspirasi alam. Di depan saya, saya melihat sebuah mobil kecil diparkir di pinggir jalan di dekat jurang. Tiba-tiba, saya membayangkan sopir mobil itu terliputi oleh keindahan alam di sini hingga dia memutuskan berhenti sejenak untuk mereguk santapan surgawinya. Ketika saya telah berada cukup dekat dengan mobil itu untuk melihat melalui jendela belakangnya, saya menjadi kaget dan kecewa. Penumpang tunggal kenderaan itu, seorang lelaki paruh baya, sedang membaca koran.

Koran itu begitu besar, hingga menghalangi seluruh pandangan ke sekitarnya. Bukannya melihat lautan dan tebing dan pulau dan padang rumput, semua yang dia lihat hanyalah perang dan politik dan skandal dan olahraga. Koran itu lebar, juga sangat tipis. Hanya beberapa milimeter di balik kertas koran yang hitam buram itu terbentang nyanyian pelangi yang mewarnai suka cita alam. Saya berpikir untuk mengambil sebuah gunting dari ransel saya dan membuat sebuah lubang kecil dari sisi luar artikel ekonomi yang sedang dibacanya. Akan tetapi lelaki itu adalah orang Skot bertubuh besar dan berbulu, sedangkan saya hanyalah mahasiswa kurus kering kurang makan. Saya membiarkannya membaca tentang dunia, sementara saya menari di dalamnya.

Pikiran kita banyak terisi oleh tetek-bengek yang memenuhi lembaran-lembaran koran: perang antarhubungan, politik dalam keluarga dan di tempat kerja, skandal-skandal pribadi yang begitu menyebalkan, dan gerak badan sebagai kesenangan jasmaniah kita. Jika kita tidak tahu bagaimana meletakkan "koran dalam pikiran kita" itu dari waktu ke waktu, jika kita terobsesi dengannya, jika hanya itulah yang kita ketahui-maka kita tak akan pernah mengalami sukacita sempurna dan kedamaian alam dalam bentuk terbaiknya. Kita tak kan pernah tau apa itu kearifan.

Sayap-sayap Belas Kasih

Jika belas kasih dibayangkan sebagai seekor merpati yang anggun, kebijaksanaan adalah bagaikan sayap-sayapnya. Belas kasih tanpa kebijaksanaan tak akan dapat tinggal landas.

Suatu hari, seorang anggota pramuka ingin menunjukkan perbuatan baiknya pada hari itu dengan membantu menyeberangkan seorang nenek di jalanan yang ramai. Masalahnya, si nenek sebenarnya tak ingin menyeberang, tetapi dia merasa sungkan memberitahukan hal itu kepada si anak pramuka.

Cerita tersebut, sayangnya, menggambarkan ada terlalu banyak hal yang terjadi di dunia atas nama belas kasih. Kita kelewat sering mengira bahwa kita tahu apa yang dibutuhkan oleh orang lain.

Seorang pemuda yang terlahir tuli, tengah mengunjungi dokter untuk pemeriksaan rutin dengan ditemani oleh kedua orang tuanya. Dengan bersemangat sang dokter memberi tahu orang tua si pemuda mengenai suatu prosedur pengobatan baru yang baru-baru ini dibacanya dari sebuah jurnal kedokteran. Sepuluh persen dari orang-orang yang terlahir tuli dapat dipulihkan kembali pendengarannya melalui operasi sederhana dan tidak mahal. Sang dokter bertanya kepada orang tua si pemuda apakah mereka ingin mencobanya. Orang tua si pemuda dengan segera mengiyakan.

Pemuda itu adalah salah satu dari sepuluh persen orang-orang tuli yang dapat dipulihkan kembali pendengarannya, namun dia malah menjadi sangat marah dan jengkel kepada kedua orang tua dan dokternya. Dia tidak mengetahui apa yang mereka rembukkan saat pemeriksaan rutinnya. Tak seorang pun yang menanyakan kepadanya apakah dia ingin bisa mendengar. Sekarang dia mengeluh karena dia harus menahan siksaan suara-suara ribut yang terus-menerus, yang mana hanya sedikit saja yang dia pahami. Sebenarnya dia memang tidak pernah ingin dipulihkan pendengarannya.

Kedua orang tuanya, dokter, dan saya sendiri, sebelum membaca cerita ini, beranggapan bahwa setiap orang pasti ingin dapat mendengar. Kita pikir kita selalu tau apa yang terbaik. Belas kasih yang mengandung asumsi seperti itu sungguh tolol dan berbahaya. Itu menyebabkan begitu banyak penderitaan di dunia.

Sunday, August 7, 2011

Mungkin Memang Adil

Sering kali saat kita mengalami depresi, kita berpikir,"Ini tidak adil! Mengapa aku?" Akan sedikit melegakan jika hidup ini lebih adil.

Seorang narapidana paruh-baya di kelas meditasi yang saya ajarkan di penjara minta bertemu dengan saya setelah sesi selesai. Dia telah mengikuti sesi-sesi saya selama beberapa bulan dan saya telah cukup mengenalnya.

"Brahm,"katanya,"saya ingin memberi tahu Anda bahwa saya tidak melakukan kejahatan yang membuat saya terkunci di penjara ini. Saya tidak bersalah. Saya tahu beberapa penjahat mungkin akan mengatakan hal yang sama dan berbohong, tetapi saya mengatakan yang sebenarnya kepada Anda. Saya tidak akan berbohong kepada Anda, Brahm, tidak kepada Anda."

Saya percaya kepadanya. Keadaan dan sikapnya membuat saya yakin bahwa dia tidak berbohong. Saya mulai berpikir betapa tak adilnya ini, dan bertanya-tanya bagaimana saya bisa memperbaiki ketidakadilan yang mengerikan ini. Namun dia menyela pikiran saya.

Dengan tersenyum nakal, dia berkata,"Tetapi Brahm, ada banyak kejahatan lain yang saya perbuat, tetapi saya tak tertangkap. Jadi saya kira apa yang terjadi sekarang ini memang adil."

Saya tertawa terbahak-bahak. Rupanya si tua bangka ini memahami hukum karma, bahkan lebih baik daripada beberapa biksu yang saya kenal.

Berapa seringkali kita melakukan "kejahatan", yang begitu melukai, tindakan yang penuh kedengkian, tetapi kita tidak dibuat menderita olehnya? Apakah kita pernah berkata,"Ini tidak adil! Mengapa aku tidak ditangkap?"

Ketika kita dibuat menderita oleh suatu alasan yang tak jelas, belum-belum kita sudah mengerang,"Ini tidak adil! Mengapa aku?" Barangkali itu sebenarnya adil. Seperti napi yang saya ceritakan, barangkali banyak "kejahatan" lain yang kita perbuat tetapi kita tak tertangkap, inilah yang menjadikan hidup ini sebenarnya adil.

Kemarahan

Marah bukanlah respon yang cerdas. Orang bijak selalu bahagia, dan orang yang bahagia tak akan marah. Marah, terutamanya, adalah hal yang tak masuk akal.

Suatu hari, mobil wihara kami berhenti di lampu merah di samping sebuah mobil lainnya. Saya memperhatikan pengemudi mobil itu memaki-maki lampu merah,"Lampu brengsek! Kau tahu aku ada janji penting! Kau tahu aku sudah terlambat dan kau biarkan mobil di depanku lewat. Dasar babi! Ini juga bukan yang pertama kali!"

Dia menyalahkan lampu merah, seolah-olah si lampu merah punya banyak pilihan. Dia pikir si lampu merah memang sengaja menyakitinya,"Aha! Ini dia datang. Aku tahu dia terlambat. Aku akan membiarkan mobil lain lewat dahulu, lalu... merah! Berhenti! Kena dia!" Si lampu merah mungkin tampak jahat, tetapi mereka hanyalah lampu merah, itu saja. Apa sih yang Anda harapkan dari sebuah lampu merah?

Saya membayangkan orang itu terlambat pulang dan istrinya memakinya ,"Kamu suami brengsek! Kamu tahu kita ada janji penting. Kamu tahu tidak boleh terlambat dan kamu malah mendahulukan urusanmu ketimbang aku. Dasar babi! Ini juga bukan yang pertama kali!"

Si istri menyalahkan suaminya, seolah-olah si suami punya banyak pilihan. Dia pikir suaminya memang sengaja menyakitinya,"Aha! Aku ada janji penting dengan istriku. Aku akan terlambat. Aku akan bertemu dahulu dengan orang lain. Terlambat! Kena dia!"Para suami mungkin tampak jahat, tetapi mereka hanyalah para suami, itu saja. Apa sih yang Anda harapkan dari para suami?

Tokoh-tokoh dalam cerita ini boleh diubah-ubah untuk menyesuaikan kasus-kasus kemarahan yang sering terjadi.

Berjudi

Mengumpulkan uang itu sulit, tetapi menghabiskannya mudah-dan cara termudah untuk kehilangan uang adalah dengan berjudi. Semua penjudi pada akhirnya adalah pecundang. Meskipun demikian, masih saja orang senang meramal masa depan dan berharap mendapatkan banyak uang dari berjudi. Saya menceritakan dua kisah berikut ini untuk menunjukkan betapa berbahayanya meramal masa depan itu, sekalipun kita mendapat pertanda.

Pada suatu pagi, seorang teman terbangun dari sebuah mimpi yang terasa sangat nyata. Dia bermimpi tentang lima malaikat yang memberinya lima kendi emas yang besar sebagai lambang keberuntungan. Ketika dia membuka matanya, para malaikat itu tak ada di kamar tidurnya, dan sialnya guci-guci emasnya juga tidak ada. Bagaimanapun juga, itu adalah mimpi yang sangat aneh.

Ketika dia pergi ke dapur, dia melihat istrinya telah membuatkan lima butir telur rebus dengan lima potong roti panggang untuk sarapan. Di halaman depan koran pagi, dia mengamati tanggal hari itu, 5 Mei (bulan kelima). Hal-hal aneh terus berlanjut. Dia membalikkan lembaran korang ke halaman pacuan kuda. Dia tertegun melihat bahwa di Ascot (lima huruf), di balapan kelima, kuda nomor lima bernama... Lima Malaikat! Mimpi itu ternyata sebuah pertanda!

Dia mengambil cuti setengah hari. Dia menarik 5.000 dolar dari tabungannya di bank. Dia pergi ke arena pacuan kuda, ke bandar kelima, dan memasang taruhannya:5.000 dolar untuk kuda nomor 5, balapan nomor 5, Lima Malaikat, untuk menang. Mimpi itu tak akan salah. Angka hoki 5 pasti tepat. Mimpinya ternyata tidak salah. Si kuda menyelesaikan balapan di urutan ke-5!

Kisah kedua terjadi di Singapura beberapa tahun yang lalu. Seorang pria Australia menikahi seorang gadis Tionghoa cantik dari Singapura. Suatu ketika, saat mereka sedang mengunjungi keluarga di Singapura, datanglah ipar-iparnya mengajak pergi ke pacuan kuda. Dia setuju untuk pergi bersama mereka. Tetapi sebelum sampai di arena pacuan kuda, mereka singgah dahulu di sebuah biara terkenal untuk menyulut dupa dan bersembahyang agar beruntung. Saat mereka tiba, biara kecil itu dalam keadaan berantakan. Lantas mereka mengambil beberapa sapu, alat pengepel, dan air dan mulai membersihkan seluruh biara. Setelah itu barulah mereka menyulut dupa dan bersembahyang untuk memohon keberuntungan, lalu meluncur ke arena pacuan kuda. Akhirnya? Mereka semua kalah besar.

Malam harinya, si Australia bermimpi pacuan kuda. Saat terbangun, dia dapat mengingat dengan sangat jelas nama kuda yang menjadi pemenang dalam mimpinya. Ketika dia membaca koran The Straits Times, ternyata kuda dengan nama itu memang ada, dan akan berlomba pada sore harinya. Dia lalu menelepon para iparnya untuk mengabarkan berita bagus itu. Namun para ipar tidak percaya bahwa dewa-dewa penjaga biara orang Singapura bersedia memberitahukan nama kuda pemenang kepada seorang bule, jadi mereka tak menggubris mimpi si bule. Si Australia lalu pergi ke arena pacuan kuda. Dia bertaruh besar pada kuda itu. Dan si kuda menang betulan.

Dewa-dewa biara Tiongkok itu pasti menyenangi orang Australia. Ipar-iparnya hanya bisa ngomel-ngomel.

Rasa Bersalah Dan Pengampunan

Beberapa tahun yang lampau, seorang perempuan muda Australia datang untuk menemui saya di wihara saya di Perth. Para biksu memang sering dimintai nasihat untuk masalah-masalah umat, barangkali karena jasa kami murah-kami tak pernah minta bayaran. Perempuan ini datang karena dia tersiksa oleh rasa bersalahnya. Enam bulan sebelumnya, dia bekerja di sebuah pertambangan terpencil di bagian utara Australia Barat. Pekerjaan di sana berat, tetap banyak duitnya. Hanya saja tak banyak yang bisa dilakukan di luar jam kerja. Jadi pada suatu Minggu siang, dia mengajak sahabat dan pacar sahabatnya untuk bepergian naik mobil ke padang rumput. Sahabatnya tak ingin pergi, demikian juga dengan pacarnya, tetapi tak asyik rasanya kalau main sendirian. Jadi, dia membujuk, berkilah, dan merengek sampai akhirnya mereka menyerah dan bersedia pergi bersama-sama.

Lalu terjadilah kecelakaan! Mobil mereka tergelincir di jalan berbatu yang longsor. Sahabatnya tewas; pacar sahabatnya jadi lumpuh. Itu adalah gagasannya, tetapi dia sendiri selamat.

Dia bercerita kepada saya dengan duka di matanya, "Kalau saja saya tidak memaksa mereka untuk pergi, sahabat saya pasti masih hidup, dan pacarnya tidak akan kehilangan kaki. Seharusnya saya tidak mengajak mereka pergi dengan saya. Saya merasa ngeri sekali. Saya merasa sangat bersalah."

Pikiran pertama yang melintas di benak saya adalah untuk menenangkannya bahwa itu semua bukan salahnya. Dia tak merencanakan untuk mengalami kecelakaan itu. Dia tidak berniat menyakiti sahabatnya. Semua sudah terjadi. Biarlah berlalu. Jangan merasa bersalah. Namun, pikiran berikutnya yang melintas adalah, "Berani taruhan dia pasti sudah mendengar nasihat semacam itu, ratusan kali, dan agaknya tidak mempan." Jadi, saya diam sejenak, merenungkan situasinya lebih dalam, lalu saya katakan kepadanya bahwa bagus juga kalau dia merasa begitu bersalah.

Wajahnya berubah dari sedih menjadi terkejut, dan dari terkejut menjadi lega. Dia belum pernah mendengar perkataan seperti itu sebelumnya: bahwa dia semestinya merasa bersalah. Dugaan saya benar. Dia merasa bersalah akan perasaan bersalahnya. Dia merasa bersalah dan setiap orang bilang bahwa dia tidak boleh merasa bersalah. Karena itu, dia merasa "dua kali bersalah", merasa bersalah karena kecelakaan itu an merasa bersalah atas perasaan bersalahnya. Begitulah cara kerja pikiran kita yang ruwet ini.

Hanya ketika kita telah mengatasi lapisan pertama perasaan bersalahnya dan menegaskan bahwa tak apa-apa kalau dia merasa bersalah, barulah kita bisa melanjutkan ke tahap berikut pemecahan masalahnya, "Lalu sekarang bagaimana?"

Ada pepatah Buddhis yang sangat membantu, "Daripada mengeluhkan kegelapan, lebih baik menyalakan lilin."

Selalu ada sesuatu yang bisa kita perbuat alih-alih merasa kesal, sekalipun hanya duduk diam sejenak, tanpa mengeluh. Perasaan bersalah pada hakikatnya berbeda dengan penyesalan. Di dalam kebudayaan kita, "bersalah" adalah keputusan yang diketok-palukan oleh hakim di pengadilan. Dan jika tak ada seorang pun yang menghukum kita, kita akan menghukum diri kita sendiri dengan satu dan lain cara. Perasaan bersalah berarti hukuman di dalam batin kita.

Jadi, perempuan muda ini memerlukan suatu kiat pengampunan untuk membebaskannya dari perasaan bersalah. Sekedar memberitahunya untuk melupakan apa yang terjadi tampaknya tak berkhasiat. Saya menyarankannya untuk menjadi relawan di sebuh unit rehabilitasi korban kecelakaan lalu lintas di rumah sakit setempat. Karena disana, saya pikir, dia akan menanggalkan rasa bersalahnya dengan bekerja keras, dan juga, seperti yang biasanya terjadi pada pekerja sukarela, dia akan sangat terbantu oleh orang-orang yang dibantunya.

Petunjuk Kedamaian Pikiran Untuk SiBodoh

Saya menceritakan kisah sebelumnya kepada sekelompok besar pendengar, pada suatu Jumat petang di Perth. Pada hari Minggu-nya, seorang ayah datang dengan marah-marah untuk berbicara kepada saya. Dia mengikuti ceramah tersebut dengan anak remajanya. Masalahnya, ketika hari Sabtu siang si anak ingin pergi bersama temana-temannya, si ayah bertanya kepada anaknya, "Kamu sudah bikin PR belum?" Anaknya menjawab, "Seperti yang diajarkan Ajahn Brahm semalam di wihara, Papa, yang sudah selesai, ya sudah selesai! Daa,,,, daaaa,,,,,!"

Pada hari minggu berikutnya, saya menceritakan kisah yang lain.

Kebanyakkan orang di Australia memiliki taman di rumahnya, tetapi hanya segelintir orang yang tau bagaimana menemukan kedamaian di taman mereka. Bagi orang lainnya, taman hanyalah tempat bekerja yang lain. Jadi saya menganjurkan mereka yang punya taman untuk memelihara keindahan taman dengan berkebun sejenak, dan memelihara hati mereka dengan sejenak duduk dalam damai di tamannya, menikmati berkah alam.

Orang bodoh pertama akan berpikir, ini gagasan bagus yang mengasyikkan. Jadi, pertama-tama mereka memutuskan untuk membereskan segala pekerjaan remeh-temeh, sesudah itu mereka baru akan melarutkan diri dalam kedamaian di taman. Jadi, hamparan rumput harus dipotong, bunga perlu disirami, dedaunan perlu dipangkas, semak-semak harus dibabat, jalan setapak harus disapu.... Tentu saja itu semua menghabiskan seluruh waktu luang mereka, dan pekerjaan yang beres pun baru sebagian kecil. Pekerjaan mereka jadinya tak pernah selesai, dan mereka tak akan pernah memiliki sejenak waktu untuk diam dalam damai. Pernahkah Anda perhatikan bahwa di dalam budaya kita, orang-orang yang "istirahat dalam damai" hanya dapat ditemukan di pekuburan?

Orang bodoh kedua berpikir bahwa mereka lebih pintar dari orang bodoh pertama. Mereka menyingkirkan semua garu dan penyiram, lantas duduk di taman sambil membaca majalah, bisa jadi, yang berisi gambar pemandangan alam nan aduhai. Tetapi, itu berarti menikmati majalah, bukannya menemukan kedamaian di taman.

Orang bodoh ketiga menyingkirkan semua peralatan berkebun, semua majalah, koran dan radio, dan duduk diam dalam damai di tamannya.... selama kira-kira 2 detik! Lalu mereka mulai berpikir, "Rumput itu perlu dipotong dan semak-semak di sana harus dibabat segera. Jika saya tidak segera menyiram bunga-bunga itu, mereka akan layu. Dan rasanya tanaman kaca-piring yang indah akan tampak bagus di sudut sana. Ya! Dengan sedikit hiasan tempat mandi burung di depan situ. Saya bisa membelinya di tempat pembibitan...." Itu sih namanya menikmati berpikir dan berencana. Tidak ada kedamaian pikiran di situ.

Pekebun yang bijak akan mempertimbangkan, "Saya telah bekerja cukup lama, sekarang waktunya untuk menikmati buah dari pekerjaan saya untuk mendengarkan kedamaian. Jadi biarpun rumput perlu dipotong dan dedaunan harus dipangkas dan bla, bla, bla! TIDAK SEKARANG." Dengan cara inilah, kita temukan kebijaksanaan untuk menikmati taman, sekalipun tidak sempurna.

Siapa tahu ada seorang biksu tua Jepang bersembunyi di balik salah satu semak dan siap untuk melompat keluar dan memberitahukan kita betapa sempurnanya taman tua kita yang berantakkan. Sungguh, jika kita memusatkan perhatian kepada pekerjaan yang telah kita selesaikan, alih-alih memusatkan pada perjaan yang masih harus diselesaikan mungkin kita akan mengerti bahwa yang sudah selesai, ya sudah selesai. Namun, jika kita memusatkan perhatian hanya untuk melihat kesalahan pada sesuatu yang harus diperbaiki, seperti dalam kasus tembok bata di wihara saya, kita tak akan pernah tahu apa itu kedamaian.

Pekebun yang bijak akan menikmati lima belas menit kedamaian di tengah kesempurnaan dari tidak sempurnanya alam, tidak berpikir, tidak berencana, dan tidak merasa bersalah. Kita semua berhak untuk pergi dan mendapatkan kedamaian; tetapi orang lain pantas kehilangan kedamaian dengan cara mereka sendiri! Lalu, setelah memperoleh bagian penting dan vital dari lima belas menit dalam damai, kita bisa meneruskan tugas berkebun kita.

Saat memahami bagaimana menemukan kedamaian di taman, kita akan tahu bagaimana menemukannya kapan saja, di mana saja. Khususnya, kita akan tahu bagaimana menemukan kedamaian di dalam taman hati kita, sekalipun pada saat kita berpikir bahwa ada begitu banyak ketidakberesan, begitu banyak yang harus diselesaikan.

Yang Sudah Selesai, Ya Sudah Selesai

Musim hujan di Thailand berlangsung dari bulan Juli sampai Oktober. Selama periode tersebut, para biksu berhenti bepergian, menghentikan semua pekerjaan proyek, dan mencurahkan diri sepenuhnya untuk belajar dan bermeditasi. Periode tersebut disebut "wassa" atau "penyunyian musim hujan".

Beberapa tahun yang lalu di Thailand selatan, seorang kepala wihara terkenal membangun sebuah aula baru di wihara hutannya. Saat wassa tiba, dia menghentikan seluruh pekerjaan proyek dan memulangkan tukang-tukangnya. Ini adalah saat untuk hening diwiharanya.

Beberapa hari berikutnya seorang pengunjung datang, menyaksikan bangunan yang setengah jadi, dia bertanya kepada kepala wihara, kapan aulanya akan selesai. Tanpa ragu-ragu, sang biksu tua berkata ,"Aulanya sudah jadi."

"Apa maksud anda dengan 'aulanya sudah jadi'?" tanya balik di pengunjung. "Itu belum ada atapnya, tak ada pintu atau jendela, banyak potongan kayu dan kantong semen berserakan. Apakah Anda akan membiarkannya begitu saja? Apa yang Anda maksud 'aulanya sudah jadi'?"

Kepala wihara tersenyum dan menjawab lirih, "Yang sudah selesai, ya sudah selesai," dan dia pun beranjak pergi untuk bermeditasi.

Itulah satu-satunya cara untuk melaksanakan penyunyian atau rehat. Jika tidak demikian, pekerjaan kita tak akan pernah selesai.
 
Copyright (c) 2010 Well Figure. Design by WPThemes Expert
Themes By Buy My Themes And Cheap Conveyancing.