Ketika masih sebagai mahasiswa, saya akan menghabiskan sebagian besar waktu liburan musim panas dengan berjalan-jalan dan berkemah di daerah dataran tinggi Skotlandia. Saya menyukai keheningan, keindahan, dan kedamaian pegunungan di Skotlandia.
Pada suatu senja yang tak terlupakan, saya berjalan lenggang kangkung di tepi samudra melalui jalan setapak yang melintas sepanjang tanjung menuju teluk kecil jauh ke arah utara. Sinar mentari yang terang dan hangat laksana sebuah lampu sorot yang menerangi keindahan alam nan tiada taranya di sekitar saya. Di tanah lapang tak bertuan terhampar luas rerumputan yang bak beludru hijau dalam segarnya musim semi; jurang-jurang terpahat laksana katedral yang menjulang tinggi di atas lautan yang bergelora; samudra tampak sebiru langit senja, bagai ditaburi oleh cahaya peri yang berkelap-kelip tertimpa sinar mentari, dan pulau karang kecil berwarna cokelat kehijauan tampak di kejauhan di tengah ombak di sepanjang garis tipis kaki langit. Bahkan, saya yakin, para camar dan burun laut pun meluncur dan terbang berputar-putar dalam kesukariaan yang melimpah. Alam mempertontonkan miliknya yang paling indah, di salah satu bagian paling permai dari dunia kita, di suatu keagungan hari yang cerah.
Saya terus melompat-lompat sekalipun terbebani oleh ransel yang berat. Saya merasa gembira, tanpa memikirkan hal-hal lainnya, di puncak inspirasi alam. Di depan saya, saya melihat sebuah mobil kecil diparkir di pinggir jalan di dekat jurang. Tiba-tiba, saya membayangkan sopir mobil itu terliputi oleh keindahan alam di sini hingga dia memutuskan berhenti sejenak untuk mereguk santapan surgawinya. Ketika saya telah berada cukup dekat dengan mobil itu untuk melihat melalui jendela belakangnya, saya menjadi kaget dan kecewa. Penumpang tunggal kenderaan itu, seorang lelaki paruh baya, sedang membaca koran.
Koran itu begitu besar, hingga menghalangi seluruh pandangan ke sekitarnya. Bukannya melihat lautan dan tebing dan pulau dan padang rumput, semua yang dia lihat hanyalah perang dan politik dan skandal dan olahraga. Koran itu lebar, juga sangat tipis. Hanya beberapa milimeter di balik kertas koran yang hitam buram itu terbentang nyanyian pelangi yang mewarnai suka cita alam. Saya berpikir untuk mengambil sebuah gunting dari ransel saya dan membuat sebuah lubang kecil dari sisi luar artikel ekonomi yang sedang dibacanya. Akan tetapi lelaki itu adalah orang Skot bertubuh besar dan berbulu, sedangkan saya hanyalah mahasiswa kurus kering kurang makan. Saya membiarkannya membaca tentang dunia, sementara saya menari di dalamnya.
Pikiran kita banyak terisi oleh tetek-bengek yang memenuhi lembaran-lembaran koran: perang antarhubungan, politik dalam keluarga dan di tempat kerja, skandal-skandal pribadi yang begitu menyebalkan, dan gerak badan sebagai kesenangan jasmaniah kita. Jika kita tidak tahu bagaimana meletakkan "koran dalam pikiran kita" itu dari waktu ke waktu, jika kita terobsesi dengannya, jika hanya itulah yang kita ketahui-maka kita tak akan pernah mengalami sukacita sempurna dan kedamaian alam dalam bentuk terbaiknya. Kita tak kan pernah tau apa itu kearifan.
0 comments:
Post a Comment